Kemiskinan Nyaris Makan Korban

13 08 2008

Siswi SMA Coba Bunuh Diri

Tri Bersama IbunyaHIDUP dalam keadaan miskin memang serba susah. Akibat miskin yang mendera keluarganya itulah, Triwardani, 18, tak mampu membayar uang sekolah yang sudah tertunggak hampir setahun. Sedih bercampur malu, ia pun nekat bunuh diri dengan menenggak 10 butir obat sakit kepala. Tuhan melindunginya, jiwanya berhasil diselamatkan.

Anak ketiga dari sembilan bersaudara itu kini dirawat di RSUD Kota Padang di Sungai Sapih, sejak Jumat pekan lalu. Hingga Selasa (12/8) kondisinya semakin membaik.

Tindakan nekad Tri –panggilan Triwardani– itu berawal dari tertunggaknya uang SPP di SMA 12 Padang sejak ia duduk di kelas dua di sekolah itu. “Sejak naik kelas dua, uang SPP tertunggak. Saat naik kelas tiga bulan lalu, saya tidak bisa mengambil rapor,” ujarnya terbata-bata.

Karena itu sejak tahun ajaran baru, Tri belum pernah masuk ke sekolah. Namun keinginan mendapatkan pendidikan itu tetap membara di dadanya. Tekad bersekolah itu sayangnya tidak didukung kondisi ekonomi ayahnya, Masrul, 50, yang hanya seorang penggali pasir sungai, dekat rumahnya di kawasan Gurun Laweh Nanggalo, Padang. Ia berdomisili di RT IV RK II Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Padang.

Itulah yang membuat Tri berpikiran pendek. Dengan alasan untuk menghilangkan bebannya itu, Jumat (8/8) ia membeli satu strip obat sakit kepala yang berjumlah 10 butir. Dalam sekejap, sekitar pukul 15.00 WIB sore, sepuluh butir obat itu ditelannya.

Awalnya, kata Tri, ia tak merasakan efek dari obat itu. Namun berselang dua jam, ia mulai merasakan akibatnya. Tubuhnya lemas dan muntah-muntah.

Ibunya Nurleli, 39, yang saat itu pulang mencuci pakaian menanyakan gerangan apa yang menimpa anak ketiganya itu. Tri hanya bisa bungkam.

Namun ketika ayahnya bertanya dengan sedikit memaksa, akhirnya Tri buka mulut bahwa ia sudah menelan 10 butir obat sakit kepala. Melihat kondisi putrinya yang makin parah, akhirnya sekitar pukul 22.30 WIB malam, ia dilarikan ke RSUD Sungai Sapih menggunakan truk pengangkut sapi.

Setelah mendapat perawatan paramedis di rumah sakit milik Pemko Padang itu, Tri mampu melewati masa kritis. Nyawanya pun terselamatkan.

Yanti, 38, seorang tetangganya saat dimintai komentarnya tentang keseharian Tri, mengatakan Tri adalah anak baik yang supel dan mudah bergaul. Ia sangat bersemangat untuk mendapatkan pedidikan. “Namun ya itu tadi, ketiadaan biaya membuatnya nekat. Untung saja nyawanya masih selamat. Mudah-mudahan ada donatur atau bapak angkat yang bisa membiayai sekolahnya. Sebab dari sembilan bersaudara itu, hampir semuanya putus sekolah. Hanya Tri yang sampai SMA. Kini pun ia terancam putus sekolah. Yang lainnya bahkan SD pun tak tamat,” ujar Yanti.

Mudah-mudahan, sekeluarnya dari rumah sakit sudah ada donatur yang mau membantunya. Sebab menurut pengakuannya Tri, ia sudah sangat ingin pergi sekolah.

Sementara itu Kepala Sekolah SMA 12 Padang, Prima Yunaldi saat di mintai keterangan guna memastikan penyebab korban nekat bunuh diri itu ulah uang sekolah menunggak, justru tidak mau memberikan keterangan. Alasan data sang anak itu belum ada padanya, ia masih baru di sekolah itu.

“Saya belum mempunyai data anak itu, karena saya bertugas di sini masih dua minggu,” kata Kepsek baru dimutasi dari SMA 1 Padang itu.

Padahal menurut Iwan, kepala tata usaha SMA 12 Padang, orangtua Tri Wardani siang kemarin sudah dipanggil kepala sekolah untuk dimintai keterangan. Iwan juga mengatakan tidak tahu menahu masalah uang SPP siswa, karena yang mengurus itu ialah bendahara sekolah dan komite.

Namun dari hematnya, sesuai kebijakan kepala sekolah yang lama, setiap anak menunggak uang sekolah, belum pernah diskor atupun diberhentikan, namun di tagih ada. “Selama ini kita belum pernah mengeluarkan anak karena uang sekolahnya menunggak, tapi di tagih ada,” tukasnya membela.

Tapi Iwan juga mengungkapkan, kebijakan itu datangnya dari kepala sekolah yang lama. Dan pada awal tahun ajaran baru kemarin setelah kepala sekolah berganti, ada beberapa kebijakan yang diubah. Apa kebijakan yang diganti itu ia juga tidak menjelaskan.***


Aksi

Information

2 responses

16 08 2008
nono

mari entaskan kemiskinan…

20 08 2008
uwiuw

semoga dengan menangnya gugatan pgri di mahkamah konstitusi kemarin bisa menyelamatkan lebih banyak lagi Triwardani Triwardani yg lain. :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: