Potret Kemiskinan Bangsaku

17 09 2008

Rp30 Ribu, Dibayar Nyawa

MEMIRISKAN…Hanya itu kata yang mampu kuucapkan tatkala melihat layar televisi yang menampilkan berita tragedi pembagian zakat di Pasuruan, jawa Timur. Senin kemarin (15/09) mereka harus berdesak-desakan. Merangsek ke depan hingga saling dorong pun harus mereka lakukan. Jumlah mereka mencapai angka 5 ribuan orang. Demi keberuntungan, sejumlah besar di antara mereka harus meninggalkan rumah menuju lokasi sejak setelah subuh. Sebagian lagi rela antre di lokasi sejak pukul 4 dini hari.

Maksud baik hartawan H. Syaikon justru berbuah petaka. Di rumah pengusaha itu, di kawasan RT III, RW IV, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Pasuruan, ribuan orang berkerumun berebut zakat. Kalau semula diperuntukkan sebagai berkah agama di bulan Ramadhan, zakat dalam pendistribusiannya akhirnya menjadi petaka.

Akibat berebut keberuntungan dalam pembagian zakat, pilu dan duka pun tak terhindarkan. Jatuh pingsan hanyalah petaka “kecil” yang terjadi di lokasi. Tidak kurang dari 21 orang justru meregang nyawa dalam kejadian itu. Puluhan lainnya dilaporkan luka-luka. Sebagian karena kehabisan oksigen. Sebagian lagi karena terinjak sesamanya saat berdesakan berebut zakat.

Berapakah nilai nominal yang mereka perebutkan hingga berujung pada kematian? Jangan bayangkan nominal mencapai jutaan, atau ratusan ribu sekalipun. Mereka hanya memperebutkan uang zakat yang “sekecil” Rp 30 ribu.

Nilai “sekecil” Rp30 ribu itu harus dibayar mahal dengan nyawa. Sebegitu miskinkah negeriku ini, sehingga demi Rp30 ribu harus rela meregang nyawa. Tapi apapun, akal sehat kita tidak bisa menerima tragedi Pasuruan. Ibu-ibu lansia yang berangkat dari rumahnya subuh-subuh ke lokasi pembagian zakat, justru bertemu dengan maut yang memilukan hati. Maut memang urusan Tuhan, tapi haruskah anak manusia tewas demi Rp30 ribu?

Bisa jadi ‘zakat maut’ di Pasuruan itu, sebagai bentuk penghinaan terhadap orang miskin. Bisa juga gambaran (maaf) kesombongan. Namun, bisa pula Tuhan sedang memainkan kameranya dan memberikan satu potret untuk kita.

Dan di layar televisi kita menyaksikan, kaum wanita yang membawa anak-anaknya terjepit di pagar besi, tidak bisa mengeliat. Di tengah kerumunan orang, wanita lain hampir kehabisan nafas. Ia minta tolong, tapi yang akan menolong juga terjepit. Mereka terkepung di gang sempit. Semua pintu tertutup. Hanya 15 menit setelah panitia mulai membagikan amplop zakat, tragedi kemanusiaan itu pun terjadi. Pekik histeris terdengar dalam pulunan ribuan manusia.

Duka nestapa di Pasuruan itu, kemudian menjadi berita internasional. Semua televisi dunia memutarnya, foto-foto orang terjepit, mayat bergeletakan tersebar ke seluruh penjuru. Itulah Indonesia. Ampuni kami Tuhan…

Foto-foto diambil dari berbagai sumber.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: