Bemo Padang Menunggu Nasib

25 02 2009

Bemo menunggu nasib

Bemo menunggu nasib

PULUHAN Bemo berjejer di terminalnya, di kawasan Pasar Raya Padang. Sesekali terdengar suara lantang sang agen berteriak memanggil calon penumpangnya: “Palinggam…. Palinggam….. Muaro… Muaro….”

Sudah 15 menit berlalu sejak penumpang pertama naik, masih saja baru tiga orang yang mengisi bangku tempat duduk bemo tersebut. Matahari kian terik menyengat ubun-ubun. Para sopir Bemo mondar-mandir menunggu giliran keberangkatan.

Ismail, 56, sang agen tak putus asa. Ia dengan tetap semangat terus memanggil para calon penumpang. Namun begitulah. “Yo lah payah bana bemo kini…apolai sajak ojek banyak ko…panumpang bemo tambah saketek (Benar-benar payah bemo kini…. Apalagi sejak banyaknya ojek, penumpang bemo kian sedikit).” sebutnya.

Beberapa sopir bemo mencoba berteduh di emperan toko dengan rona berkeringat. Mereka tampaknya saling bercerita. Ternyata menceritakan susahnya mencari uang dengan bemo saat ini.

Dulu ketika jaya-jayanya bemo, ada 11 jurusan untuk mengantarkan penunmpang. Hampir tak ada sudut Kota Padang yang tidak dijamah bemo. Tapi kini hanya tinggal 3 (line) jurusan saja, yakni Muaro, Palinggam dan Puruih. Jumlah bemo pun kini tinggal 44 unit dengan kondisi yang juga cukup memprihatinkan.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa hanya tinggal 3 jalur, Muaro, Palinggam dan Puruih, dulu masih tersedia 11 line. Ismail menyebutkan, penumpang yang tak ada lagi naik bemo. Sebab di depan terminal bemo sudah ada ojek. Jadi calon penumpang tinggal memilih, mau naik bemo, ongkosnya Rp2.000 ke Muaro, naik ojek Rp3.000. Kalau bemo harus tunggu penuh dulu, ojek, begitu naik langsung jalan.

“Jadi penumpang lebih tertarik naik ojek daripada bemo. Dengan demikian calon penumpang bemo jadi berkurang. Seiring waktu, maka bemo makin terpinggirkan,” kata Ismail, yang sudah menjadi agen sejak tahun 1974 silam.

Dengan makin banyaknya ojek, kondisi jurusan bemo pun makin memprihatinkan, lama kelamaan bisa habis karena tak ada penumpang lagi. Semua orang bisa lari naik ojek.

“Bayangkan kini mulai dari pagi hari hingga pukul 18.00 Wib, paling banyak mengangkut penumpang 4 trip. Satu trip ongkos sewa hanya Rp14.000 dari tujuh penumpang. Untuk sopir Rp12.000, agen Rp2.000,” jelasnya.

Begitu pula yang diakui Buyuang, sopir bemo. Penghasilan sebagai sopir bemo benar-benar memprihatinkan. “Benar-benar susah mencari uang kini, narik bemo berangkat setelah Salat Subuh, pulang selepas Magrib, paling banyak dapat uang Rp50 ribu, stor ke pemilik bemo Rp25 ribu, untuk kita Rp25 ribu. Belum lagi bensin yang rata-rata sehari habis 10 liter.Itulah penghasilan kini,” ungkap Buyuang dengan nada lirih.

Namun begitu, mereka para sopir bemo mencoba bertahan. Dari hasil banting tulang menarik bemo yang tak seberapa, mereka bertahan hidup dengan keluarga. “Yang paling sedihnya, jika anak atau istri sakit, terpaksa kalimpasiangan mencari biaya berobat,” tambahnya.

Sepertinya bemo di Padang tinggal menunggu nasib. Seiring perjalanan waktu, keberadaan bemo akan semakin ditinggalkan. Akankah bemo akan tingal kenangan?***


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: